Tampilkan postingan dengan label kimia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kimia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Januari 2011

Analisis Anion

1.      DASAR TEORI
Analisis kualitatif merupakan analisis yang dilakukan untuk mengenal unsur apa yang terdapat pada suatu sampel. Analisis kualitatif untuk zat anorganik terdiri dari:
-Analisis anion
-Analisis kation
            Pada analisis anion, anion yang dipelajari adalah sebagai berikut:
Cl-, Br-, S2-, CO2-, SO42-, PO42-, MnO4-, NO2- dan asetat oksalat. Tahap analisis kualitatif yang dilakukan adalah sebagai berikut:
A.     Analisis Pendahuluan
Pada cuplikan dilakukan”Pemeriksaan pendahuluan” yaitu pengamatan sifat fisika yaitu warna, bau, bentuk Kristal dan tes kelarutan dalam air. Beberapa anion bereaksi dengan asam basa atau berealsi secara reduksi oksidasi sering menghasilkan perubahan warna atau perubahan gas.

                                    Table 1 Analisa Pendahuluan untuk ANION


ANION
REAGEN  H2SO4 (6 M)         HNO3 (6 M)         HCl(6 M)

CO3 2-
Dengan pereaksi tersebut tanpa di panaskan akan di hasilkan  gas  CO2
yang tidak berwarna dan tidak berbau.

SO32-
Dalam keadaan tanpa di panaskan akan terjadi pergolakan pada larutan di
hasilkan gas SO3 dengan bau yang khas seperti hasil bakaran sulfur
(S)tanpa warna.

NO22-
-tanpa di panaskan akan terjadi pergolakan (mendidih)
-dihasilkan gas NO2 warna coklat
-larutan waena biru bila di gunakan reagen H2SO4 dan HNO3 dan akan berwarna kuning
I-
Bila digunakan HNO3 tanpa pemanasan akan di hasilkan larutan warna kuning dan gas I2 berwarna ungu, bila di reaksikan akan di hasilkan larutan warna gelap dengan asam sulfat di panaskan akan di hasilkan larutan kuning dengan asam nitrat di panaskan akan di hasilkan larutan warna jingga dan gas berwarna jingga.

Br-
Dengan asam nitrat di panaskan terjadi pergolakan dengan cepat di hasilkan gas NO2 warna coklat

SCN-
Dengan asam sulfat dan HCl maka pergolakan akan lebih sedikit
CrO4-
Dihasilkan larutan warna kuning dari semua reagen tanpa pemanasan


S2-
Dihasilkan gas H2s dengan semua reagen tanpa pemanasan , tanpa HNO3 di hasilkan gas NO2 berwarna coklat
C2H3O
Dengan semua reagen asam yang di larutkan berbau asam cuka. Mudah  untuk mendeteksi, memasukan batang pengaduk dalam larutan panas kemudian cium baunya.


           







            Pemanasan di lakukan dengan menggunakan gelas kimia yang berisi air mendidih.

            B.Pemeriksaan anion secara sistematis (golongan)
    
GOL
AgNO3 0.1 M endapan yang             terjadi
BaNO3 0.1 M endapan yang terjadi
                  Anion

1
Putih kuning ,tidak larut
Dalam asam nitrat
Tidak ada endapan
Cl-, Br-, I-, SCN-






2
  Larut dalam asam nitrat 1M
Tidak ada endapan
S22-, NO22-
3
  Putih, larut dalam HNO3
   Putih, larut dalam HNO3
SO32-
4
  Cokelat keemasan, larut dalam asam nitrat
    Putih, larut dalam HNO3
PO42-, CrO42-
5
Tidak ada endapan
Tidak ada endapan
MnO4
6
Tidak ada endapan
  Putih, tidak larut dalam         HNO3
SO42-

Setelah golongan anion di temukan , maka di lakukan test spesifik
C. Analisa anion dengan reaksi spesifik
a.  Cl-    :         Ag+ +  Cl+     AgCl(s)  ↓ putih , larut dalam amoniak berlebih
b.  Br-   :         Ag +  +   Br+     AgBr(s)  ↓  kuning putih, larur dalam (NH4)2CO3
Larutan Br-  akan merduksi MnO4- menjadi Mn- dalam suasana asam menghasilkan Br2- yang berwarna orange. 10 Br-(aq) + 16 H+ + 2Mn2-(aq) ditambahkan larutan carbon tetra clorida. Br2- dapat larut dalam CCl4 menghasilkan warna kecoklatan.
c.  I-     :    Ag+ I-  →  AgI    ↓  kuning, larut dalam (NH4)CO3
                Fe3+ +  I- →  ½ I2  +  Fe2+  ↓ coklat
                 I dapat membirukan laritan kanji atau I dalam CCl menghasilkan warna ultra violet
d. SCN-     : Fe3+ +  3  SCN-  →  Fe (SCN)3   ↓merah bata
e.  S2-          :Pb2+ +  S2- →  PbS(s)    ↓  hitam
f.  NO-       : I-    +  NO-2    + 2 H+  →  ½ I2 + NO +  H2O
                   NO2- + Fe2+  + 2 H+ →  NO +  Fe3+ + HO
                   Fe2++  NO + SO42- → [FeNO]SO4   coklat
g.  CH3COO-       : CH3COONa  + KHSO  → CH3COOH  + NaKS4
h .  SO32-  :  2(MnO4)  + 5(SO3)2-  + 6H+  →  2Mn2+ + 5 SO4 + 3H2O
                   (CrO)2- + (3SO)2- + 8H+  →  2Cr2+ + 3(SO)2- +  4H2O
i.  CO32-  : CO3- + Ca2+ → CaCO3 (s)  putih, endapan ini larut dengan larutan asam kuat
                  CaCO  +2HCl   →  CaCl  + HO +   CO
j.  PO4-    :    Mg2+ +   NH4 + +  PO-  →  Mg(NH4)(PO4)   ↓ putih 
                    12(NH) MoO  +  23 H+ + PO- → (NH4)3(PMo12O40)(s)   +   H2O  ↓   kuning
k. C2O42-     :   Ca2+  + C2O42- → CaC2 (s)   putih,
                      5(COO2)2-+2 MnO42- + 16 H+  → 10 CO2 + 2Mn+  + 8H2O   endapan oksalat violet.
l. MnO     :   sama dengan oksalat. MnO- bila di reaksikan  dengan ion SO3- dalam suasana asam akan                 
                    menghasilkan warna ungu dan MnO4-

          2(MnO4)-+  5  SO3 2- +  6  H+ → 2 Mn2+ +  6(SO4)2- + 3H2O
                     Violet                                                     bening           
m.  SO42-   :   Ba2+ +  SO32- →  BaSO(s)  ↓  putih, tidak larut dalam asam kuat.
n.  CrO42-  :    2  Ag+   +   (CrO4)2-  → AgCrO4 (s)   ↓   merah, tidak larut dalam asetat tetapi larut dalam
                     asam kuat dengan amoniak.

Titrasi Redoks (Penentuan Besi)

1.      TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini diharapkan mahasiswa mampu melakukan standarisasi dan penentuan cuplikan dengan titrasi redoks
.                                                     
2.      PERINCIAN KERJA
     1. Melakukan standarisasi larutan KMnO4
     2. Menentukan kadar besi dalam larutan

3.      DASAR TEORI
Titrasi redoks merupakan titrasi yang didasarkan pada reaksi oksidasi reduksi antara
analit dan titran. Titrasi redoks banyak digunakan untuk penentuan sebagian besar logam-logam. Indicator yang digunakan pada titrasi ini menggunakan berbagai cara kerja. Pada titrasi yang menggunakan KMnO4 tidak menggunakan suatu larutan indicator, tetapi larutan KMnO4 itu sendiri dapat bertindak sebagai indicator.
      Beberapa titrasi redoks menggunakan amilum sebagai indicator, khususnya titrasi redoks yang melibatkan iodine. Indikator yang lain yang bersifat reduktor/oksidator lemah juga sering dipakai untuk titrasi redoks jika kedua indicator diatas tidak dapat diaplikasikan, misalnya ferroin, metilen, blue, dan nitroferoin. Contoh titrasi redoks yang terkenal adalah iodimetri. Iodometri, permanganometri menggunakan titrant kalium permanganat untuk penentuan Fe2+ dan Oksalat, Kalium dikromat dipakai untuk titran  penentuan Besi(II) dan Cu(I) dalam CuCl. Bromat dipakai sebagai titrant untuk penentuan fenol, dan iodida (sebagai I2 yang dititrasi dengan tiosulfat.), dan Cerium(IV) yang bisa dipakai untuk titrant titrasi redoks penentuan ferosianida dan nitrit.
      Titik akhir dari suatu titrasi redoks dapat dilakukan dengan mebuat kurva titrasi antara potensial larutan dengan volume titran atau dapat juga menggunakan indicator. Dengan memandang tingkat kemudahan dan efisiensi maka titrasi redoks dengan indicator sering kali yang banyak dipilih. Beberapa titrasi redoks menggunakan warna titrant sebagai indicator contohnya penentuan oksalat dengan permanganate, atau penentuan alkohol dengan kalium dikromat.
             3.1 Kalium Permanganat
       Kalium permanganat digunakan secara luas sebagai pereaksi oksidasi selama seratus tahun lebih. Zat ini merupakan pereaksi yang mudah diperoleh, tidak mahal dan tidak memerlukan suatu indicator kecuali kalau digunakan larutan-larutan yang sangat encer. Satu tetes KMnO4 0,1 N memberikan suatu warna merah muda yang jelas pada larutan dalam titrasi. Permanganat mengalami reaksi kimia yang bermacam-macam, karena mangan dapat berada dalam keadaan-keadaan oksidasi +2, +3, +4, +5, +6, +7. Untuk reaksi yang berlangsung dalam larutan yang asam akan terjadi reaksi :
            MnO4 -+ 8H­­­­+ + 5e <=> Mn 2++ 4H­2O
Sedangkan untuk reaksi dalam larutan berasam rendah :
            MnO4 -+ 8H­­­­+ + 3e <=>        MnO2 + 2H­2O
Reaksi yang paling banyak digunakan adalah reaksi pada larutan yang sangat asam, dimana permanganat bereaksi dengan sangat cepat.
     
        3.2 Natrium Oksalat
        Senyawa ini merupakan standar primer yang baik bagi permanganat dalam larutan berasam. Dapat diperoleh dalam derajat kemurnian yang tinggi, stabil pada pemanasan dan tidak higroskopis. Reaksi dengan permanganat agak komplek dan sekalipun banyak penelitian yang telah dilakukan, namun mekanisme yang tepat tidak jelas. Reaksinya lambat pada suhu kamar. Oleh kareana itu biasanya larutan dipanaskan pada suhu 600C. Pada kenaikan suhu, pada awalnya reaksi berjalan lambat, tetapi kecepatan meningkat setelah ion mangan (II) terbentuk. Mangan (II) bertindak sebagai suatu katalis dan reaksinya dinamakan otokatalitik karena katalis dihasilkan oleh reaksinya sendiri. Ionnya mungkin mempengaruhi efek katalitiknya dengan cepat bereaksi dengan permanganat untuk membentuk mangan dari keadaan oksidasi antara +3 dan +4 yang selanjutnya dengan cepat mengoksidasi ion oksalat, kembali keadaan divalent. Adapun reaksinya adalah :
                5C2O42- + 2MnO4 + 16H+  2Mn 2+ + 10 CO2 + 8H2O
    
              Fowler dan bright melakukan suatu penelitian yang sangat mendalam terhadap kesalahan-kesalahan yang mungkin didalam titrasi. Mereka menemukan beberapa bukti dari pembentukan peroksida
            O2  +  H2C2O4      H2O2  +  2 CO2
Dan apabila perioksida terurai sebelum bereaksi dengan permanganat, terlalu sedikit larutan permanganat yang diperlukan sehingga dari perhitungan normalitasnya tinggi. Mereka menyarankan agar hampir semua permanganat ditambahkan dengan cepat dalam larutan dipanaskan sampai 60 0C dan titrasi diselesaikan pada suhu ini.

4.      ALAT YANG DIGUNAKAN
      • Kaca Arloji                                              2 buah
      • Erlenmeyer 250 ml                                   6 buah
      Buret 50 ml                                              2 buah
      Pipet Ukur 25 ml                                      4 buah
      Gelas Kimia 100 ml, 250 ml                     2 buah
      • Labu Takar 100 ml, 250 ml, 500 ml         2 buah
      • Spatula                                                    2 buah
      • Bola Karet                                               4 buah
      • Hot Plate                                                 2 buah
      • Termometer                                             2 buah


5.      BAHAN YANG DIGUNAKAN
      • Na2C2O4  padatan                    0,3       gram
      • H2SO4                                     12,5       ml          
      • KMnO4 padatan                       0,7902 gram
      • FeSO4.7H2O padatan               4          gram

6.      PROSEDUR PERCOBAAN

6.1 Standarisasi Larutan KMnO4
     • Membuat larutan 0,1 N KMnO4
     • Mengeringkan Natrium Oksalat dalam Oven pada suhu 105-110 oC selama 2 jam
         setelah itu mendinginkannya dalam desikator.
     • Menimbang Natrium Oksalat sebanyak 300 mg dan memasukkannya kedalam
         erlenmeyer.
     • Melarutkan 12,5 ml H2SO4 pekat  dalam 250 ml air ( hati-hati )
     • Memasukan larutan H2SO4 kedalam erlenmeyer yang berisi Natrium Oksalat.
        Mengkocoknya dan mendinginkannya sampai 24 oC.
     • Mentitrasi dengan 0,1 N  KMnO4 sampai volume 35 ml. lalu dipanaskan sampai
        50-60 oC. dan melanjutkan titrasi setetes demi setetes hingga berubah warna yaitu
        merah muda.

6.2 Penentuan Besi Dengan KMnO4
      • Melarutkan 4 gram cuplikan FeSO4.7H2O dalam air demineral 100 ml.
      • Memipet 25 ml larutan cuplikan kedalam erlenmeyer 250 ml dan menambahkan
        25ml 0,5 M H2SO4.
      • Mentitrasi dengan larutan standar 0,1 N KMnO4 sampai warna merah muda tidak
        berubah lagi.

Jumat, 07 Januari 2011

Analisis Air Kristal


1.     Tujuan Percobaan
Mahasiswa mampu menganalisis secara kualitaif dan kuantitatif suatu air Kristal

2.     Dasar Teori
Pada umumnya Kristal suatu senyawa kimia bila diletakkan beberapa lama di udara akan mengadsorbsi air pada permukaannya. Jumlah air yang diadsorbsi relative kecil dan bergantung pada kelembapan udara. Hal ini dapat dilihat dari permukaanya yang basah.
Terdapat pula Kristal yang mengandung sejumlah air yang terikat secara kimia dalam Kristal tersebut. Kristal-kristal ini, biasanya merupakan garam ionic. Air yang terdapat di dalamnya disebut air Kristal dan biasanya berikatan dengan kationnya.
Air Kristal yang terdapat pada senyawa, mempunyai jumlah tertentu dan relatif mudah dihilangkan melalui pemanasan pada suhu diatas titik didih air . sebagai contoh adalah hidrat tembaga (II) klorida yang dapat diubah menjadi tembaga (II) klorida melalui pemanasan pada suhu 100oC.
                  Reaksi penghilangan air Kristal pada pemanas :
                                                                                    110oC
                        CuCl2.xH2O  → CuCl2 + H2O
Reaksi diatas dikenal dengan reaksi dehidrasi. Pada dehidrasi, terjadi perubahan Kristal dan warnanya. Perubahan ini juga bergantung pada pemanasannya, apakah sempurna atau tidak. Sebagai contoh Kristal CoCl2.6H2O bewarna merah, jika dipanaskan sampai CoCl2.6H2O akan bewarna violet, tetapi jika dipanaskan sempurna dia akan berubah menjadi biru.
Adanya senyawa hidrat apabila diletakkan di udara terbuka akan melepaskan air. Banyak air yang dilepaskan bergantung pada kelembapan udara., makin besar makin sedikit air yang dilepaskan. Proses pelepasan air ini disebut efflorescence, misalnya CoCl2.6H2O. tetapi ada juga senyawa yang bila diletakkan di udara akan menyerap air dan mencair bila diletakkan lebih lama lagi. Senyawa yang demikian disebut deliquescence, misalnya Kristal NaOH. Tidak hanya air di udara, tetapi dapat juga menyerap air dari laruatan sedemikian rupa sehingga larutan tersebut bebas air. Senyawa yang demikian disebut desicant atau zat pengering. Jadi desicant menyerap air tidak hanya di udara tetapi dilarutan juga.
Beberapa senyawa juga menghasilkan air pada saat pemanasan, tetapi senyawa tersebut bukan senyawa hidrat yang sebenarnya. Air yang dihasilkan tersebut merupakan proses penguraian dan bukan merupakan proses penghilangan air melalui dehidrasi. Senyawa-senyawa organic terutama bersifat tersebut diatas.
Penguraian dengan menghasilkan air, bukan merupakan proses reversible. Penambahan air kedalam senyawa yang terurai tersebut, tidak akan mengembalikan senyawa ke bentuk asalnya. Senyawa yang merupakan senyawa hidrat yang sebenarnya, akan mengalami dehidrasi secara reversible. Penambahan air kedalam CoCl anhidirida, akan menghasilkan CoCl.2H2O. Bila cukup air yang ditambahkan, maka akan diperoleh larutan yang mengandung hidrat ion Cu2+ .
Semua hidrat ionic larut dalam air dan dapat diperoleh kembali melalui kristalisasi dan larutannya. Jumlah air yang terikat bergantung kepada cara pembuatan hidrat tersebut.

3.     Daftar Alat yang Digunakan
·        Tabung reaksi
·        Bunsen
·        Kaca arloji
·        Rak tabung reaksi
·        Cawan penguap
·        Krus porselin + tutup
·        Desikator
·        Segitiga dan kaki tiga
·        Penjepit kayu
·        Spatula

4.     Bahan yang Digunakan
4.1 Identifikasi Hidrat
·        K2Cr2O7
·        BaCl2
·        Boraks
4.2 Reversibillitas Hidrat
·        CoCl2.x H2O
4.3 Deliquescence dan Efflorescence
·        Na2CO3.10 H2O
·        CuSO4.5 H2O
·        Kal(SO4)2.10 H2O
·        CaCl2

4.4 Jumlah Air Kristal
·        CuCl2.x H2O

5.     Gambar Alat (TERLAMPIR)

6.     Keselamatan Kerja
Jangan menyentuh Kristal langsung dengan tangan, gunakan spatula untuk menaganinya.

7.     Langkah Kerja
7.1 Identifikasi Hidrat
1.      Memanaskan sejumlah air Kristal 0.5 gr di dalam tabung reaksi
2.      Mencatat jika ada tetesan air di dinding tabung
3.      Mencatat perubahan yang terjadi
4.      Melarutkan dalam air (amati warna), jika perlu dipanaskan

7.2  Reversibilitas Hidrat
1.      Memanaskan lebih kurang 0,3 gr, Kristal di dalam cawan penguapan sampai warnanya berubah sempurna
2.      Melarutkan residu dengan air di dalam cawan penguapan
3.      Memanaskan larutan sampai mendidih dan kering
4.      Mencatat perubahan warna
5.      Membiarkan dan mencatat perubahan warna

7.3  Deliquescence dan Efflorescence
1.      Memempatkan tiap Kristal berikut di kaca arloji yang terpisah
2.      meletakkan senyawa-senyawa tersebut ke cawan penguapan
3.      mencatat perubahan yang terjadi warna dan kelembapannya
4.      mengamati sample selama dilaboratorium

7.4  Jumlah Air Kristal
1.      Membersihkan porselin krusibel dan tutupnya dengan HNO3 6M
2.      membilas dengan aquadest
3.      memanaskan krusibel beserta tutupnya di atas segitiga dan sampai kemerahan selama 2 menit
4.      menimbang setelah dingin dengan ketelitian 0,001 gr
5.      memasukkan 1 gr sampel yang tidak diketahui ke dalam krusibel
6.      timbang krusibel serta isinya
7.      meletakkan krusibel di segitiga dengan tutup yang jauh dari pusat, panaskan lagi
8.      menunggu selama 10 menit, pusatkan lagi tutupnya dan dinginkan
9.      menimbang lagi sampai diperoleh berat konstan
10.  mengamati residu yang diperoleh, menambahkan air kedalm krusibel sampai 2/3 bagian terisi air
bila residu tidak larut, maka panaskan perlahan-lahan

8.     Data Pengamatan
a.     Identifikasi Hidrat
Zat
Apakah terdapat H2O pada dinding?
Warna residu
Apakah larut dalam air?
Apakah mempunyai air Kristal?
K2Cr2O7
Tidak
Merah kecoklatan
Larut
Tidak ada
BaCl2
Ya
Putih
Larut
Ada
Boraks
Ya
Putih
Tidak larut
Ada

b.     Beri kesimpulan dari pengamatan Anda !
Apakah dehidrasi dan hidrasi CoCl2, reversible?

Hasil Pengamatan :
Warna awal CoCl2.x H2O adalah ungu, setelah dipanaskan di dalam cawan penguapan warnanya berubah menjadi biru. Setelah dialrutkan dengan air warnanya kembali menjadi warna ungu. Saat dipanaskan sampai mendidih berubah warna menjadi biru, lama-kelamaan berubah menjadi ungu, setelah kering berubah kembali menjadi biru.
Dapat disimpulkan bahwa CoCl2. x H2O adalah zat yang reversible

c.     Deliquescence dan Efflorescence
Zat / senyawa
Berat Arloji
Arloji + zat
Na2Co3.10 H2O
9,22 gr
10,35 gr
CuSO4.5 H2O
16,51 gr
18,62 gr
Kal(SO4)2.10 H2O
42,22 gr
42,82 gr
CaCl2
32,67 gr
33,31 gr
 
Setelah pengamatan di dapat data :
Zat
Pengamatan
Kesimpulan
Na2Co3.10 H2O
Larutan melepaskan air, hal ini dibuktikan dengan pengurangan berat yang terjadi.setelah pengamatan
Efflorescence
CuSO4.5 H2O
Larutan melepaskan air, hal ini dibuktikan dengan pengurangan berat yang terjadi.setelah pengamatan
Efflorescence
Kal(SO4)2.10 H2O
Larutan melepaskan air, hal ini dibuktikan dengan pengurangan berat yang terjadi.setelah pengamatan
Efflorescence
CaCl2
Larutan menyerap air dan mencair saat lebih lama diletakkan di udara terbuka, zar tersebut bersifat hidroskopis
Deliquescence


Berat senyawa sebelum dan sesudah pengamatan :
Zat / senyawa
sebelum
sesudah
Na2Co3.10 H2O
10,35 gr
10,34 gr
CuSO4.5 H2O
18,62 gr
18,60 gr
Kal(SO4)2.10 H2O
42,82 gr
42,90 gr
CaCl2
33,31 gr
33,39 gr


d.     Jumlah Air Kristal
·        Massa krusibel + tutup                    = 51,88 gr
·        Massa krusibel + tutup + hidrat       = 52,88 gr
·        Massa krusibel + tutup + residu      = 52,42 gr
·        Massa hidrat padat             = 1 gr
·        Massa residu                                  = 0,54 gr
·        Massa H2O yang hilang                   = 0,46 gr
·        % H2O dalam residu                       = 46 %
·        Jumlah air Kristal                            = 6,1238
·        Rumus molekul dari hidrat   = CoCl2.6 H2O
·        Apakah residu larut dalam air          = larut

KAl(SO4)2. 12 H2O yang menyebabkan berat setelah pengamatan berubah massa H2O yang hilang       = 1 gr – 0,54 gr
                                    = 0,46 gr

H2O dalam residu         = Massa H2O yang hilang x 100%
                                           Massa hidrat padat
                                    = 0,46 gr x 100%
                                                1 gr
                                    = 46 %

Jumlah air Kristal : CoCl2.x H2O  →  CoCl2+x H2O
Mol CoCl2                   = mol CoCl2
gram CoCl2.x H2O       = gram CoCl2
Mr CoCl2.x H2O             Mr CoCl2

          1 gr                   =             0,54 gr
129,83 + 18,06 x gr/mol             129,83 gr/mol


X         =59,7218 mol
               9,7524 mol
            = 6,1238         

% kesalahan     = praktek – teori  x100
                                    praktek           
                        = 6,1238 – 6 x 100
                               6,1238
                        = 2,0216206


9.     Pertanyaan
1)      Tuliskan macam-macam air Kristal ?
2)      Tuliskan 10 zat yang mengandung air Kristal?
Jawab :
1)      - Hidratasi adalah air yang oleh ion-ion dalam Kristal dan berbentuk H2O
- Konstitusi adalah air yang merupakan bagian mol zat padat tetapi tidak    berbentuk H2O
2)      CaCl2, boraks, Kal(SO4)2, NaOH, CuCl2, K2Cr2O7, CoCl2, BaCl2, Na2Co3, dan CuSO4

Kesimpulan :
·        Deliquescence adalah senyawa yang bila diletakkan di udara akan menyerap air dan mencair bila diletakkan lebih lama lagi.
Contoh : CaCl2
·        Efflorescence adalah larutan atau senyawa yang melepaskan air, dengan ditandai dengan pengurangan berat
Contoh : Na2Co3.10 H2O, CuSO4.5 H2O, Kal(SO4)2.10 H2O
·        BaCl2 dan boraks mempunyai air Kristal itu dapat dibuktikan dari hasil pengamatan. Saat dipanaskan BaCl2 langsung menggumpal, dan terdapat tetesan air di dinding tabung. dan Boraks saat dipanaskan lama kelamaan zat menggumpal dan terdapat tetesan air di dinding tabung.
·        Larutan Reversibel adalah larutan yang dapat berubah kembali dari produk menjadi reaktan. contoh : CoCl2.x H2O
·         % H2O dalam residu dapat dicari dengan menggunakan rumus :
H2O dalam residu               =  Massa H2O yang hilang x 100%
                                                      Massa hidrat padat
·        Perhitungan dari hasil praktek :
o       % H2O dalam residu                 = 46 %
o       Jumlah air Kristal                      = 6,1238
o       Rumus molekul dari hidrat         = CoCl2.6 H2O
o       % kesalahan                             = 2,0216206 %